Rabu, 29 Februari 2012

Bla... bla.. blaa..



Perjodohan alias aplikasi cari jodoh paling enak untk para orang2 yg pngn cpt nikah/pasangan hidup
Menyikapi tentang perjodohan didunia saat ini ditahun modern seprti saat ini y mungkin jga bnyak keuntungan2 dri perjodohan mulai dri materi,kasih sayang,kesempurnaan dlam hidup dll tau bahkan ada jga mlah terbalikkanya hidup dlm paksaan,menderita batin,tdk bahagia dll.
Klu perjodohan dilakukan orang2 desa dngan orng kota itu bahkan menguntungkan orang kota  tau bahkan saling menguntungkan tp ad sebagian kecil yg tidak untung yg perlu perhatian jga entah itu yg dijodhkan dan hatinya,terkadang orng tua ingin jga anknya bahagia orang tua pun jga ikut bahagia tp trkadang dngan cara yg salah dn keliru,y mungkin kesalahan nenek moyang kita kali dulu  gara2 ada perjodohan,tp perasaan si adam dn hawa gak jga dijodohkan ma Allah hehe
Bnyak pemikiran tentang perjodohan dn ingin dijodohkan secara rela ,tp klu ad yg mikir tentang ingin dijodohkan itu sih paling gara2 tdk mendapatkan jodohnya karna terlalu bnyak milih atau pasang/menginginkan kriteria terlalu tinggi mungkin sja tau bahkan capek cari pasangan tau pacarn/gonta ganti pacar tp g ad yg mau serius ,ad jga yg berfikir pacaran sampek capek habis itu soal suami minta dijodohkan waaaaahhhhh begitu bgussekali sifat itu alias parahhhhahahahahhh y sma aj yg rugi ntr jodohnya dy yg dpt bekas tp klu dimaknai lg kita hnya mencari cinta dn kasih sayng tau kedepan hdup bsa lbh baik
Jodoh serasa ringan diucap, tapi rumit dalam realita. Kebanyakan orang ketika berbicara soal jodoh selalu bertolak dari sebuah gambaran ideal tentang kehidupan rumah tangga. Otomatis dia lalu berpikir serius tentang kriteria calon idaman. Nah, di sinilah segala sedu-sedan pembicaraan soal jodoh itu berawal. Pada mulanya, kriteria calon hanya menjadi 'bagian masalah', namun kemudian justru menjadi inti permasalahan itu sendiri.

Di sini orang berlomba mengajukan "standarnisasi" calon: wajah rupawan, berpendidikan tinggi, wawasan luas, orang tua kaya, profesi mapan, latar belakang keluarga harmonis, dan tentu saja kualitas kesalehan.

Ketika ditanya, haruskah seideal itu? Jawabnya ringan, "Apa salahnya?" Memang, ada juga jawaban lain, "Saya tidak pernah menuntut. Yang penting bagi saya calon yang saleh saja." Sayangnya, jawaban itu diucapkan ketika gurat-gurat keriput mulai menghiasi wajah. Dulu ketika masih fresh, sekadar senyum pun mahal.

Tidak ada satu pun dalih, bahwa peluang jodoh lebih cepat didapatkan oleh mereka yang memiliki sifat superior (serba unggul). Memperhitungkan kriteria calon memang sesuai, namun kriteria tidak pernah menjadi penentu sulit atau mudahnya orang menikah. Pengalaman riil di lapangan kerap kali menjungkirbalikkan prasangka-prasangka kita selama ini.

Jodoh, jika direnungkan, sebenarnya lebih bergantung pada kedewasaan kita. Banyak orang merintih pilu, menghiba dalam doa, memohon kemurahan Allah, sekaligus menuntut keadilan-Nya. Namun prestasi terbaik mereka hanya sebatas menuntut, tidak tampak bukti kesungguhan untuk menjemput kehidupan rumah tangga.

Mereka bayangkan kehidupan rumah tangga itu indah, bahkan lebih indah dari film-film picisan ala bintang India, Sahrukh Khan. Mereka tidak memandang bahwa kehidupan keluarga adalah arena perjuangan, penuh liku dan ujian, dibutuhkan napas kesabaran panjang, kadang kegetiran mampir susul-menyusul. Mereka hanya siap menjadi raja atau ratu, tidak pernah menyiapkan diri untuk berletih-letih membina keluarga.

Kehidupan keluarga tidak berbeda dengan kehidupan individu, hanya dalam soal ujian dan beban jauh lebih berat. Jika seseorang masih single, lalu dibuai penyakit malas dan manja, kehidupan keluarga macam apa yang dia impikan?

Pendidikan, lingkungan, dan media membesarkan generasi muda kita menjadi manusia-manusia yang rapuh. Mereka sangat pakar dalam memahami sebuah gambar kehidupan yang ideal, namun lemah nyali ketika didesak untuk meraih keidealan itu dengan pengorbanan. Jika harus ideal, mereka menuntut orang lain yang menyediakannya. Adapun mereka cukup ongkang-ongkang kaki. Kesulitan itu pada akhirnya kita ciptakan sendiri, bukan dari siapa pun.

Bagaimana mungkin Allah akan memberi nikmat jodoh, jika kita tidak pernah siap untuk itu? "Tidaklah Allah membebani seseorang sesuai kesanggupannya.". Di balik fenomena "telat nikah" sebenarnya ada bukti-bukti kasih sayang Allah.

Ketika sifat kedewasaan telah menjadi jiwa, jodoh itu akan datang tanpa harus dirintihkan. Kala itu hati seseorang telah bulat utuh, siap menerima realita kehidupan rumah tangga, manis atau getirnya, dengan lapang dada. Jangan pernah lagi bertanya, mana jodohku? Namun bertanyalah, sudah dewasakah aku?

 * Latar belakang keluarga
memang latar belakang keluarga
tak bisa dipungkiri kedua belah pihak pastilah memegang peran penting. yang termasuk di sini antara lain suku, bangsa, ras, agama, sosial, kondisi ekonomi, pola hidup dan sebagainya. Namun bukan berarti pasangan dengan latar belakang yang sangat berbeda dan bertolak belakang tidak mungkin bersatu. Hanya saja mereka mesti lebih siap dituntut berupaya lebih keras dalam proses penyesuaian diri.

  Kesetaraan
Kesetaraan akan mempermudah suami istri dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Adanya kesetaraan dalam banyak hal dapat meminimalkan friksi yang mungkin timbul. Kesetaraan ini antara lain meliputi kesetaraan pendidikan, pola pikir dan keimanan.

  Karakteristik individu
Setiap individu memiliki karakteristik yang unik dan ini menjadi salah satu pilar yang menentukan langgeng tidaknya sebuah rumah tangga. Individu dengan karakter sulit yang bertemu dengan individu yang juga berkarakter sulit, tentu lebih berat dalam mempertahankan pernikahannya. Sebaliknya, yang berkarakter sulit bila bertemu dengan pasangan yang berkarakter mudah, tentu proses penyesuaian yang harus dijalaninya bakal lebih mulus.

  Cinta
Jangan anggap sepele kata yang satu ini. Walaupun tidak berwujud, cinta dapat dirasakan. Pernikahan tanpa cinta bisa dibilang ibarat sayur tanpa garam, serba hambar dan dingin. Cinta yang dimaksud adalah cinta yang mencakup makna melindungi, memiliki tanggung jawab, memberi rasa aman pada pasangan dan sebagainya.
Ada yang bilang, setelah sekian tahun menikah cinta biasanya akan hilang dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu. Sementara yang tersisa tinggal tanggung jawab. Benarkah? "Tidak harus seperti itu karena cinta bisa dipupuk supaya terus subur. Apalagi menjalani tanggung jawab akan terasa lebih ringan kalau ada cinta di dalamnya," . Meski tentu saja, mempertahankan rumah tangga tidak cukup bermodalkan cinta semata!
  Kematangan dan motivasi
Kematangan suami/istri memang ditentukan oleh faktor usia ketika menikah. Mereka yang menikah terlalu muda secara psikologis belum matang dan ini akan berpengaruh pada motivasinya dalam mempertahankan biduk rumah tangga. Namun usia tidak identik dengan kematangan seseorang karena bisa saja orang yang sudah cukup umur tetap kurang memperlihatkan kematangan.

  Partnership
Pilar rumah tangga berikutnya adalah partnership alias semangat bekerja sama di antara suami dan istri. Tanpa adanya partnership, umumnya rumah tangga mudah goyah. Selain itu perlu "persahabatan" yang bisa dirasakan keduanya. Coba bayangkan, alangkah nikmatnya bila masalah apa pun yang menghadang senantiasa dihadapi bersama dengan seorang sahabat.

Kamis, 16 Februari 2012

Beda antara Cinta dan Cocok

Salah satu alasan paling umum mengapa kita menikah adalah karena cinta - cinta romantik, bukan cinta agape, yang biasa kita alami sebagai prelude ke pernikahan. Cintalah yang meyakinkan kita untuk melangkah bersama masuk ke mahligai pernikahan.
Masalahnya adalah, walaupun cinta merupakan suatu daya yang sangat kuat untuk menarik dua individu, namun ia tidak cukup kuat untuk merekatkan keduanya.
Makin hari makin bertambah keyakinan saya bahwa yang diperlukan untuk merekatkan kita dengan pasangan kita adalah kecocokan, bukan cinta.
Saya akan jelaskan apa yang saya maksud.
Biasanya cinta datang kepada kita ibarat seekor burung yang tiba- tiba hinggap di atas kepala kita. Saya menggunakan istilah "datang" karena sulit sekali (meskipun mungkin) untuk membuat atau mengkondisikan diri mencintai seseorang.
Setelah cinta menghinggapi kita, cinta pun mulai mengemudikan kita ke arah orang yang kita cintai itu. Sudah tentu kehendak rasional turut
berperan dalam proses pengemudian ini. Misalnya, kita bisa menyangkal hasrat cinta karena alasan-alasan tertentu. Tetapi, jika tidak ada alasan-alasan itu, kita pun akan menuruti dorongan cinta dan berupaya mendekatkan diri dengan orang tersebut.
Cinta biasanya mengandung satu komponen yang umum yakni rasa suka.
Sebagai contoh, kita berkata bahwa pada awalnya kita tertarik dengan gadis atau pria itu karena sabarannya, kebaikannya menolong kita, perhatiannya yang besar terhadap kita, wajahnya yang cantik atau sikapnya yang simpatik, dan sejenisnya. Dengan kata lain, setelah menyaksikan kualitas tersebut di atas timbullah rasa suka terhadapnya sebab memang sebelum kita bertemu dengannya kita sudah menyukai kualitas tersebut. Misalnya, memang kita mengagumi pria yang sabar, memang kita menghormati wanita yang lemah lembut, memang kita mengukai orang yang rela menolong orang lain dan seterusnya.
Jadi, rasa suka muncul karena kita menemukan yang kita sukai pada dirinya.Saya yakin cinta lebih kompleks dari apa yang telah saya uraikan.
Namun khusus untuk pembahasan kali ini, saya membatasi lingkup cinta hanya pada unsur suka saja. Cocok dan suka tidak identik namun sering dianggap demikian. Saya berikan contoh.
Saya suka rumah yang besar dengan taman yang luas, tetapi belum tentu saya cocok tinggal di rumah yang besar seperti itu. Saya tahu saya tidak cocok tinggal di rumah sebesar itu sebab saya bukanlah tipe orang yang rajin membersihkan dan memelihara taman (yang dengan cepat akan bertumbuh kembang menjadi hutan). Itulah salah satu contoh di mana suka tidak sama dengan cocok. Contoh yang lain. Rumah saya kecil dan cocok dengan saya yang berjadwal lumayan sibuk dan kurang ada waktu mengurusnya.
Namun saya kurang suka dengan rumah ini karena bagi saya, kurang besar (tamannya). Pada contoh ini kita bisa melihat bahwa cocok berlainan dengan suka. Pada intinya, yang saya sukai belum tentu ocok buat saya; yang cocok dengan saya belum pasti saya sukai. Sekarang kita akan melihat kaitannya dengan pemilihan pasangan hidup.
Tatkala kita mencintai seseorang, sebenarnya kita terlebih dahulu menyukainya, dalam pengertian kita suka dengan ciri tertentu pada dirinya.
Rasa suka yang besar (yang akhirnya berpuncak pada cinta) akan menutupi rasa tidak suka yang lebih kecil dan -- ini yang penting -- cenderung menghalau ketidak cocokan yang ada di antara kita. Di sinilah terletak awal masalah.
Ini yang tiap kali terjadi dalam masa berpacaran.
Rasa suka meniup pergi ketidak cocokan di antara kita, bahkan pada akhirnya kita beranggapan atau berilusi bahwa rasa suka itu identik dengan kecocokan. Kita kadang berpikir atau berharap, "Saya menyukainya, berarti saya (akan) cocok dengannya." Salah besar!
Suka tidak sama dengan cocok; cinta tidak identik dengan cocok!
Alias, kita mungkin mencintai seseorang yang sama sekali tidak cocok dengan kita.
Pada waktu Tuhan menciptakan Hawa untuk menjadi istri Adam, Ia menetapkan satu kriteria yang khusus dan ini hanya ada pada penciptaan istri manusia, yakni, "Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kejadian 2:18).
Kata "sepadan" dapat kita ganti dengan kata "cocok." Tuhan tidak hanya menciptakan seorang wanita buat Adam yang dapat dicintainya, Ia sengaja menciptakan seorang wanita yang cocok untuk Adam.
Tuhan tahu bahwa untuk dua manusia bisa hidup bersama mereka harus cocok.
Menarik sekali bahwa Tuhan tidak mengagungkan cinta (romantik) sebagai prasyarat pernikahan. Tuhan sudah memberi kita petunjuk bahwa yang terpenting bagi suami dan istri adalah kecocokan. Ironisnya adalah, kita telah menggeser hal esensial yang Tuhan tunjukkan kepada kita dengan cara mengganti kata "cocok" dengan kata "cinta." Tuhan menginginkan yang terbaik bagi kita; itulah sebabnya Ia telah menyingkapkan hikmat-Nya kepada kita.
Sudah tentu cinta penting, namun yang terlebih penting ialah, apakah ia cocok denganku?
Saya kira kita telah termakan oleh motto, "Cinta adalah segalanya," dan melupakan fakta di lapangan bahwa cinta (romantik) bukan segalanya.
Jadi, kesimpulannya ialah, cintailah yang cocok dengan kita!

Selasa, 24 Januari 2012

Tokoh Wayang Wibisana


Ini adalah cerita sedikit dari nama saya wibisono yg diberikan oleh orang tua saya dan nama saya tersebut diambil dari tokoh pewayangan dan ini cerita sedikit dari sejarah tokoh pewayangan dari wibisana (wibisono) tersebut .

Wibisana

Wibisana (bahasa Sanskerta: विभीषण, Vibhīshaa) adalah nama seorang tokoh protagonis dalam wiracarita Ramayana. Ia adalah adik kandung Rahwana yang menyeberang ke pihak Sri Rama. Dalam perang besar antara bangsa Rakshasa melawan Wanara, Wibisana banyak berjasa membocorkan kelemahan kaumnya, sehingga pihak Wanara yang dipimpin Rama memperoleh kemenangan. Sepeninggal Rahwana, Wibisana menjadi raja Alengka. Ia dianggap sebagai salah satu Chiranjiwin, yaitu makhluk abadi selamanya.
Dalam pewayangan Jawa, Wibisana sering disebut dengan nama lengkap Gunawan Kuntawibisana. Tempat tinggalnya bernama Kasatrian Parangkuntara.
Silsilah keluarga
Menurut versi Ramayana, Wibisana adalah putra bungsu pasangan Wisrawa dan Kaikesi. Ayahnya seorang resi putra Pulastya. Sementara ibunya adalah putri Sumali, seorang raja Rakshasa dari Kerajaan Alengka. Versi lain, yaitu Mahabharata menyebut Wibisana sebagai putra wisrawa dan Malini. Menurut versi kedua tersebut, Kaikesi hanya melahirkan dua prang putra saja, yaitu Rahwana dan Kumbakarna.
Wibisana menikah dengan seorang wanita dari bangsa Rakshasa bernama Sarama. Istrinya itu juga bersifat bijaksana. Ia menjadi pelindung Sita istri Rama ketika ditawan Rahwana.
Kepribadian
Meskipun berasal dari bangsa Rakshasa, namun Wibisana memiliki kepribadian yang berbeda. Biasanya para Rakshasa dikisahkan sebagai pembuat onar, perusuh kaum brahmana, dan pemakan daging manusia. Namun Wibisana terkenal berhati lembut dan hidup dalam kebijaksanaan.
Wibisana menghabiskan masa mudanya dengan bertapa memuja Wisnu. Ia juga memuja Brahma bersama dengan kedua kakaknya, yaitu Rahwana dan Kumbakarna. Ketika Dewa Brahma turun untuk memberikan anugerah, Rahwana dan Kumbakarna mengajukan permohonan diberi kekuatan dan kesaktian untuk bisa menaklukkan para dewa.
Wibisana bersikap lain. Ia justru meminta agar selalu berada di jalan kebenaran atau dharma. Ia tidak minta diberi kekuatan, tetapi minta diberi kebijaksanaan.
Peran di Alengka
Dalam kisah Ramayana
setelah gagal membujuk kakaknya untuk mengembalikan Sita kepada Rama, Wibisana memutuskan untuk berpihak pada Rama yang diyakininya sebagai pihak yang benar. Hal ini berarti dia harus melawan kakaknya sendiri (Rahwana) demi membela kebenaran. Menarik untuk dilihat bahwa Kumbakarna (yang juga masih saudara kandung dengan Wibisana dan Rawana) mengambil sikap yang berlawanan, dimana Kumbakarna tetap membela tanah air, walaupun menyadari bahwa dia berada di pihak yang salah. Wibisana merupakan tokoh yang menunjukkan bahwa kebenaran itu menembus batas-batas nasionalisme, bahkan ikatan persaudaraan.
Wibisana memihak Rama
Karena merasa tidak mendapat tempat di Alengka, Wibisana pergi bersama empat rakshasa yang baik dan menghadap Rama. Dalam perjalanan ia dihadang oleh Sugriwa, raja wanara yang mencurigai kedatangan Wibisana dari Alengka. Setelah Rama yakin bahwa Wibisana bukan orang jahat, Wibisana menjanjikan persahabatan yang kekal. Dalam misi menghancurkan Rahwana, Wibisana banyak memberi tahu rahasia Alengka dan seluk-beluk setiap rakshasa yang menghadang Rama dan pasukannya. Wibisana juga sadar apabila ada mata-mata yang menyusup ke tengah pasukan wanara, dan melaporkannya kepada Rama. Saat pasukan wanara berhasil dikelabui oleh Indrajit, Wibisana adalah orang yang tanggap dan mengetahui akal Indrajit yang licik.
Ketika Kumbakarna maju menghadapi Rama dan pasukannya, Wibisana memohon agar ia diberi kesempatan berbincang-bincang dengan kakaknya itu. Rama mengabulkan dan mempersilakan Wibisana untuk bercakap-cakap sebelum pertempuran meletus. Saat bertatap muka dengan Kumbakarna, Wibisana memohon agar Kumbakarna mengampuni kesalahannya sebab ia telah menyeberang ke pihak musuh. Wibisana juga pasrah apabila Kumbakarna hendak membunuhnya. Melihat ketulusan adiknya, Kumbakarna merasa terharu. Kumbakarna tidak menyalahkan Wibisana sebab ia berbuat benar. Kumbakarna juga berkata bahwa ia bertempur karena terikat dengan kewajiban, dan bukan semata-mata karena niatnya sendiri. Setelah bercakap-cakap, Wibisana mohon pamit dari hadapan Kumbakarna dan mempersilakannya maju untuk menghadapi Rama.
Raja Alengka
Setelah Kumbakarna dan Rahwana dibunuh oleh Rama, Wibisana dan para sahabatnya menyelenggarakan upacara pembakaran yang layak bagi kedua ksatria tersebut. Kemudian ia dinobatkan menjadi Raja Alengka yang sah. Ia merawat Mandodari, janda yang ditinggalkan Rahwana, dan hidup bersama dengan permaisurinya yang bernama Sarma. Wibisana memerintah Alengka dengan bijaksana. Ia mengubah Alengka menjadi kota yang berlandaskan dharma dan kebajikan, setelah sebelumnya rusak karena pemerintahan Rahwana.
Versi Pewayangan
Dalam pewayangan, Wibisana dilukiskan berwajah tampan dan terlahir sebagai manusia seperti ayahnya, bukan raksasa. Ayahnya bernama Wisrawa dari Pertapaan Argawirangin, sedangkan ibunya bernama Sukesi dari Kerajaan Alengka.
Wibisana menikah dengan bidadari bernama Triwati. Dari perkawinan itu lahir dua orang anak bernama Trijata dan Bisawarna. Trijata bertindak sebagai perawat dan penjaga Sinta ketika disekap oleh Rahwana.
Wibisana menyeberang ke pihak Rama setelah diusir oleh Rahwana karena berani menentang perbuatan kakaknya itu yang telah menculik Sinta. Ia kemudian menjadi penasihat strategi perang di pihak Rama. Dalam pewayangan Jawa, yang menewaskan Indrajit putra Rahwana adalah Wibisana bukan Laksmana.
Setelah Rahwana terbunuh, Wibisana menolak menjadi raja Alengka. Dalam tradisi Jawa ada sebuah kepercayaan bahwa istana yang baru saja dirusak musuh tidak baik untuk ditempati karena masih menyimpan energi negatif. Oleh karena itu, Wibisana membangun ibu kota baru di Parangkuntara, dan mengganti nama Kerajaan Alengka menjadi Kerajaan Singgelapura.
Setelah memerintah cukup lama, Wibisana pun turun takhta menjadi resi di Gunung Cindramanik. Kerajaan Singgelapura kemudian diwariskan kepada putranya, yaitu Bisawarna yang bergelar Prabu Dentawilukrama.
Wibisana mencapai moksa pada zaman kehidupan para Pandawa.

 http://id.wikipedia.org/wiki/Wibisana
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
 http://www.hadisukirno.com/artikel-detail?id=107
 http://wayang.wordpress.com/2010/07/18/wibisana/

Selasa, 17 Januari 2012

Fanatisme Agama yang berlebihan bangsa Indonesia

Negara Indonesia yang dahulu terkenal dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika nya, dimana bermakna berbeda-beda suku, agama dan ras, tetapi tetap satu, sekarang sudah luntur. Bangsa Indonesia sekarang, adalah bangsa yang gampang terprovokasi, sehingga persaudaraan yang berbeda sudah tidak ada lagi. Padahal, pada saat merebut kemerdekaan, seluruh bangsa Indonesia yang berbeda suku, agama dan ras, bersama-sama berjuang untuk satu tujuan, kebebasan bangsa kita dari belenggu penjajahan.
Nampaknya hal tersebut sudah tidak ada lagi, yang namanya Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila dan UUD’45 sudah tidak dihargai dan sudah tidak menjadi dasar hukum dan pedoman hidup bangsa Indonesia.
Saya juga heran dengan masyarakat Indonesia termasuk saya, kalau ada setiap kejadia, selalu dikaitkan dengan negara lain. Setiap ada perusakan rumah Ibadah, dikaitkan dengan Amerika dan Yahudi. Setiap ada pelarangan beribadah, dikaitkan dengan Israel atas Palestina. Ada kejadian, penusukan dan pemukulan terhadap seorang Situa dan Pendeta, dikaitkan dengan rencana pembakaran kitab suci oleh Terry jones di Amerika dan isyu pembakaran Mesjid di Tennesse Amerika yang tidak jelas kabar beritanya di internet. Jadi seolah-olah kalau ada kejadian di Amerika, selalu pelampiasannya dilakukan di Indonesia. Kenapa, kalau mereka mau melampiaskannnya, kenapa tidak berbuat di Amerika saja. Kenapa penganiayaan pembantu yang banyak terjadi di Arab Saudi, tidak mereka lampiaskan di sini…???
Kalau begini bangsa Indonesia, kapan mau berkembang dan maju, setiap ada sesuatu kejadian di luar negeri yang berkaitan dengan agama, selalu dibuat efeknya di Indonesia. Walaupun kita tidak tahu, apakah setiap peristiwa yang terjadi ada unsur politis ataupun provokasi, tetapi itulah bangsa kita gampang di pecah belah dengan sebutkan satu isyu SARA saja. Setiap ada kejadian selalu selalu  dikaitkan Amerika dan Yahudi, bahkan pemboman teroris selalu didukung dengan anggapan akibat perlakuan Amerika dan Yahudi, padahal yang melakukan jelas-jelas orang-orang Indonesia. Orang Indonesia termasuk dibilang pintar, enggak juga kalau selalu beranggapan seperti itu. Terbukalah, untuk setiap kejadian sebagai suatu teguran dari Tuhan dan sebagai alat intropeksi diri kita. Kalau ada kejadian-kejadian yang membuat tidak aman negara kita, yang rugi sudah pasti kita sendiri. Karena keamanan adalah indikator terkuat dari peningkatan tingkat perekonomian, pertambahan pendapatan dari  pariwisata dan lain-lain.
Saya berharap bangsa kita sedikit lebih majulah, karena saya yakin bangsa kita adalah orang yang berpendidikan tinggi. Gunakan pendidikan tinggi anda untuk membangun bangsa dan negara ini, dan bersama-sama kita wujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Jangan pendidikan tinggi dipergunakan sebagai pemicu pikiran yang picik.
Saya sebagai pribadi, tidak setuju ada penganiayaan, penistaan kitab suci agama manapun, pelarangan beribadah agama apapun. Itu tidak sesuai dengan ajaran agama apapun, hanya kadang oknum-oknum yang salah mengartikan agamanya ( mungkin belajar setengah-setengah dan tidak mendalami, atau terlalu banyak doktrin garis keras yg diajarkan gurunya ) karena fanatisme yang salah.
Boleh fanatisme terhadap agamanya, tetapi jangan berlebihan, sehingga boleh menganiaya atau melukai perasaan umat lainnya.
Saya pikir wajar Malaysia tertawa terbahak-bahak dan mungkin berkata dalam hati,” GIMANA INDONESIA MAU MENGALAHKAN KITA, WONG DI NEGARANYA SAJA MEREKA SATU BANGSA DAN NEGARA SALING BERMUSUHAN KARENA BEDA AGAMA..” Tetapi saya berharap Indonesia, ke depan akan lebih baik lagi dalam hal tenggang rasa dan toleransinya.
Satu lagi pertanyaan saya :
APAKAH PANCASILA MASIH ADA..?
APAKAH UUD’45 MASIH BERLAKU..?
APAKAH BHINNEKA TUNGGAL IKA, MASIH SEBAGAI PEDOMAN KEANEKARAGAMAN KITA..?

Free thinking

Apakah kasih sayang memandang perbedaan atau bahkan memilih ?

Allah tdk pernh mengajarkn/memberi contoh sesuatu yg salah kaprah yg dilakukan manusia yg cman mikirin buku atau kitab atau apalah bikinan manusia yg diedit sedikit yg menurut mereka benar yg menganggap perbedaan itu harus dibeda bedakan mulai dri ras,kepercayaan/keyakinan,suku,warna kulit,miskin/kaya.
tp walau melakukan ap yg dimaksud/diperintahkan Allah tp manusia tdk melakukanya malah bnyak ngmongnya tau ceramah,gembar gembor kesanan kemari tp tidak menerapkan dlam diri dn melakukanya,memang melakukan hal yg baik atau benar adalah sulit bgi manusia seperti yg dilakukan Allah yg maha sempurna tp Allah slalu memberi kesempatan waktu yg tak terbatas bagi manusia utuk mlakukan hal itu. entah mereka manusia yg bodoh atau ak yg memang sangat bodoh yg tidak tau tidak mengerti apa2 tentang buku2 atau kitab2 atau bahkan nabi2 yg mereka debatkan yg mereka masalahkan ini yg benar atau itu yg salah tp ak tidak perduli dngn buku tau kitab2 mereka, yg ak tau Allah itu SATU dan mengajarkan hal yg baik dan menciptakan yg baik pula yaitu manusia dan alam semesta seisinya,mungkin memang ak tidk pernah memuja atau menunjukkan sikap atau perbuatan dimuka umum atau di depan banyk orang seperti halnya beryayi puji2an atau kmna tempat untuk memuji dan memuja Allah bahkan seperti orang Atheis saja ak ini hehe ,ak hanya cukup mengucap syukur kpada Allah disetiap nfas hidupku,dibatinku,disekitarku yg diberikan oleh Allah .
 yaahh yang ku tau hanyalah Allah Itu Satu Esa dan Mulia Maha Tinggi jauuuuuhhhh yg diatas sana ,smua agama atau keyakinan sebenarnya ber Allah Satu jga cmn tata cara menyembah berbeda bentuk dan ajaran yg baik smua. Tapi


......................................................................................................................................................


Apakah Allah menciptakan atau membuat aturan perbedaan yg sulit dan rumit ??seperti umatnya kurasa tidak!!! y cman umatnya ajj mempersulit atau menambah"kan aturan atau hukumnya sendiri yng menurut mereka benar padahal salah . banyak yg kita tau Allah itu maha pemurah,pengampun,penyayang dan smua hal yg baik dan sempurna .


Alla memberi ampunan pada Pelacur , Pembunuh , Maling dan bahkan yg berpaling kepadanya dll, Allah selalu memberi kesempatan untuk bertobat tanpa embel" atau sangsi dn tanpa syarat.
tp mengapa manusia mengampuni seseorang dngan syarat dan sangsi ? tp y biarlah nmanya jg manusia suka" hehe :D
tp klu dipikir lg memang sih manusia banyak kekurangannya tidak seperti Allah yng sempurna tp perlu diingat lg manusia ciptaan Allah yg sempurna yg punya akal budi bisa mikir dri pada hewan dan tanaman hehe :p


Allah itu Satu dan menciptakan berbagi macam" bentuk berbeda" kehidupan dan menjadi baik ,apalagi yg manusia yg ciptaanya Super disayang dan dicinta Allah , Allah menciptalkan Adam Hawa nenek moyang kita biar menjadi satu pada dasarnya biar berkembang biak dan agar menyembah Allah yang menciptakan mereka itu tanpa  staus ekonomi,sosial,latarblakang,bahkan Agama dll.memang di jaman Adam Hawa blum jga ad status sosial,ekonomi,Agama dll jadi enak tingal bilang "Loee Guee Satu falling in lope beres dehh hehe :p


nahh...................................................................................................................................................
tp mengapa manusia slalu memandang berbedaan mulai dri staus ekonomi,sosial,latar blakang,bahkan Agama dll ??
padahal dihadapan Allah smua itu tdak berarti apa" apalagi perbedaan , yg Allah butuhkan hanyalah umat yg berbeda menjadi satu sling menyayangi dan mengasihi .


bagi para yng beragama atau yng beryakinan kuat atau yng seperti saya penjaga keyakinan didalam hati semga mengerti maksud Allah .
tidak asal"an beragama dan belajar agama jika kita kesulitan Allah sudah memberi petunjuk yg mudah untuk kita berkomunikasi iyalah Ber Doa maka petunjuk Allah dngn berdoa dngan menurut keyakinan masing" pasti Allah akn menjawabnya kesulitan kita.
dan ingat jngan merasa sesuatu Agama tertentu atau keyakinan tertentu yang unggul atau diuggulkan dn jangan pernah beralasan membedakan sesuatu keyakinan untuk perbedaan jenis/ras yang tidak bisa menyatu.karna Allah tidak mengajarkan itu karna smua yang diajarkan baik untuk satu dan menjadi satu.


banyk pemuka Agama atau orang pinter (sok pinter) debat soal Agama atau suatu keyakinan yng tiada habisnya bahkan banyak yng Fanatisme Agama menafsirkan berbagai macam artian , pengartian yng mengakibatkan sampai perang salah paham dan salah kaprah alias goblok kabeh, karna Allah tidak pernah meminta umatnya untuk berfikir rumit atau gak neko - neko yng diminta beliau adalah umatnya menjadi satu dn keiklas'an menyembah Allah dengan tulus begitu pula Allah jg memberikan kasih sayang cinta dngan iklas tulus kepada umatnya ciptaannya.


y sya hnya sdikit mengikatkan ajj berfikir luaslah karna Allah membekali kta pikiran yg mulia dan baik pda awal kita diciptakanya oleh Allah .


msh pngn nulis kluarin uneg" tp ko udah ngatuk wahh tdur dulu ajj wes hehe :D


nb: owh iy siapa sja klu mu coment" ,mencela dan memaki" silahkan saja ok hehe :D
     bebas yg penting No rasis , fasis or fanatisme Agama yg ad cman Individu merdeka berfikir.