Negara Indonesia yang dahulu
terkenal dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika nya, dimana bermakna berbeda-beda
suku, agama dan ras, tetapi tetap satu, sekarang sudah luntur. Bangsa Indonesia
sekarang, adalah bangsa yang gampang terprovokasi, sehingga persaudaraan yang
berbeda sudah tidak ada lagi. Padahal, pada saat merebut kemerdekaan, seluruh
bangsa Indonesia yang berbeda suku, agama dan ras, bersama-sama berjuang untuk
satu tujuan, kebebasan bangsa kita dari belenggu penjajahan.
Nampaknya hal tersebut sudah tidak
ada lagi, yang namanya Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila dan UUD’45 sudah tidak
dihargai dan sudah tidak menjadi dasar hukum dan pedoman hidup bangsa
Indonesia.
Saya juga heran dengan masyarakat
Indonesia termasuk saya, kalau ada setiap kejadia, selalu dikaitkan dengan
negara lain. Setiap ada perusakan rumah Ibadah, dikaitkan dengan Amerika dan
Yahudi. Setiap ada pelarangan beribadah, dikaitkan dengan Israel atas
Palestina. Ada kejadian, penusukan dan pemukulan terhadap seorang Situa dan
Pendeta, dikaitkan dengan rencana pembakaran kitab suci oleh Terry jones di
Amerika dan isyu pembakaran Mesjid di Tennesse Amerika yang tidak jelas kabar
beritanya di internet. Jadi seolah-olah kalau ada kejadian di Amerika, selalu
pelampiasannya dilakukan di Indonesia. Kenapa, kalau mereka mau
melampiaskannnya, kenapa tidak berbuat di Amerika saja. Kenapa penganiayaan
pembantu yang banyak terjadi di Arab Saudi, tidak mereka lampiaskan di sini…???
Kalau begini bangsa Indonesia, kapan
mau berkembang dan maju, setiap ada sesuatu kejadian di luar negeri yang
berkaitan dengan agama, selalu dibuat efeknya di Indonesia. Walaupun kita tidak
tahu, apakah setiap peristiwa yang terjadi ada unsur politis ataupun provokasi,
tetapi itulah bangsa kita gampang di pecah belah dengan sebutkan satu isyu SARA
saja. Setiap ada kejadian selalu selalu dikaitkan Amerika dan Yahudi,
bahkan pemboman teroris selalu didukung dengan anggapan akibat perlakuan
Amerika dan Yahudi, padahal yang melakukan jelas-jelas orang-orang Indonesia.
Orang Indonesia termasuk dibilang pintar, enggak juga kalau selalu beranggapan
seperti itu. Terbukalah, untuk setiap kejadian sebagai suatu teguran dari Tuhan
dan sebagai alat intropeksi diri kita. Kalau ada kejadian-kejadian yang membuat
tidak aman negara kita, yang rugi sudah pasti kita sendiri. Karena keamanan
adalah indikator terkuat dari peningkatan tingkat perekonomian, pertambahan
pendapatan dari pariwisata dan lain-lain.
Saya berharap bangsa kita sedikit
lebih majulah, karena saya yakin bangsa kita adalah orang yang berpendidikan
tinggi. Gunakan pendidikan tinggi anda untuk membangun bangsa dan negara ini,
dan bersama-sama kita wujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Jangan
pendidikan tinggi dipergunakan sebagai pemicu pikiran yang picik.
Saya sebagai pribadi, tidak setuju
ada penganiayaan, penistaan kitab suci agama manapun, pelarangan beribadah
agama apapun. Itu tidak sesuai dengan ajaran agama apapun, hanya kadang
oknum-oknum yang salah mengartikan agamanya ( mungkin belajar setengah-setengah
dan tidak mendalami, atau terlalu banyak doktrin garis keras yg diajarkan
gurunya ) karena fanatisme yang salah.
Boleh fanatisme terhadap agamanya,
tetapi jangan berlebihan, sehingga boleh menganiaya atau melukai perasaan umat
lainnya.
Saya pikir wajar Malaysia tertawa
terbahak-bahak dan mungkin berkata dalam hati,” GIMANA INDONESIA MAU
MENGALAHKAN KITA, WONG DI NEGARANYA SAJA MEREKA SATU BANGSA DAN NEGARA SALING
BERMUSUHAN KARENA BEDA AGAMA..” Tetapi saya berharap Indonesia, ke depan
akan lebih baik lagi dalam hal tenggang rasa dan toleransinya.
Satu lagi pertanyaan saya :
APAKAH PANCASILA MASIH ADA..?
APAKAH UUD’45 MASIH BERLAKU..?
APAKAH BHINNEKA TUNGGAL IKA, MASIH
SEBAGAI PEDOMAN KEANEKARAGAMAN KITA..?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar