Selasa, 17 Januari 2012

Fanatisme Agama yang berlebihan bangsa Indonesia

Negara Indonesia yang dahulu terkenal dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika nya, dimana bermakna berbeda-beda suku, agama dan ras, tetapi tetap satu, sekarang sudah luntur. Bangsa Indonesia sekarang, adalah bangsa yang gampang terprovokasi, sehingga persaudaraan yang berbeda sudah tidak ada lagi. Padahal, pada saat merebut kemerdekaan, seluruh bangsa Indonesia yang berbeda suku, agama dan ras, bersama-sama berjuang untuk satu tujuan, kebebasan bangsa kita dari belenggu penjajahan.
Nampaknya hal tersebut sudah tidak ada lagi, yang namanya Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila dan UUD’45 sudah tidak dihargai dan sudah tidak menjadi dasar hukum dan pedoman hidup bangsa Indonesia.
Saya juga heran dengan masyarakat Indonesia termasuk saya, kalau ada setiap kejadia, selalu dikaitkan dengan negara lain. Setiap ada perusakan rumah Ibadah, dikaitkan dengan Amerika dan Yahudi. Setiap ada pelarangan beribadah, dikaitkan dengan Israel atas Palestina. Ada kejadian, penusukan dan pemukulan terhadap seorang Situa dan Pendeta, dikaitkan dengan rencana pembakaran kitab suci oleh Terry jones di Amerika dan isyu pembakaran Mesjid di Tennesse Amerika yang tidak jelas kabar beritanya di internet. Jadi seolah-olah kalau ada kejadian di Amerika, selalu pelampiasannya dilakukan di Indonesia. Kenapa, kalau mereka mau melampiaskannnya, kenapa tidak berbuat di Amerika saja. Kenapa penganiayaan pembantu yang banyak terjadi di Arab Saudi, tidak mereka lampiaskan di sini…???
Kalau begini bangsa Indonesia, kapan mau berkembang dan maju, setiap ada sesuatu kejadian di luar negeri yang berkaitan dengan agama, selalu dibuat efeknya di Indonesia. Walaupun kita tidak tahu, apakah setiap peristiwa yang terjadi ada unsur politis ataupun provokasi, tetapi itulah bangsa kita gampang di pecah belah dengan sebutkan satu isyu SARA saja. Setiap ada kejadian selalu selalu  dikaitkan Amerika dan Yahudi, bahkan pemboman teroris selalu didukung dengan anggapan akibat perlakuan Amerika dan Yahudi, padahal yang melakukan jelas-jelas orang-orang Indonesia. Orang Indonesia termasuk dibilang pintar, enggak juga kalau selalu beranggapan seperti itu. Terbukalah, untuk setiap kejadian sebagai suatu teguran dari Tuhan dan sebagai alat intropeksi diri kita. Kalau ada kejadian-kejadian yang membuat tidak aman negara kita, yang rugi sudah pasti kita sendiri. Karena keamanan adalah indikator terkuat dari peningkatan tingkat perekonomian, pertambahan pendapatan dari  pariwisata dan lain-lain.
Saya berharap bangsa kita sedikit lebih majulah, karena saya yakin bangsa kita adalah orang yang berpendidikan tinggi. Gunakan pendidikan tinggi anda untuk membangun bangsa dan negara ini, dan bersama-sama kita wujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Jangan pendidikan tinggi dipergunakan sebagai pemicu pikiran yang picik.
Saya sebagai pribadi, tidak setuju ada penganiayaan, penistaan kitab suci agama manapun, pelarangan beribadah agama apapun. Itu tidak sesuai dengan ajaran agama apapun, hanya kadang oknum-oknum yang salah mengartikan agamanya ( mungkin belajar setengah-setengah dan tidak mendalami, atau terlalu banyak doktrin garis keras yg diajarkan gurunya ) karena fanatisme yang salah.
Boleh fanatisme terhadap agamanya, tetapi jangan berlebihan, sehingga boleh menganiaya atau melukai perasaan umat lainnya.
Saya pikir wajar Malaysia tertawa terbahak-bahak dan mungkin berkata dalam hati,” GIMANA INDONESIA MAU MENGALAHKAN KITA, WONG DI NEGARANYA SAJA MEREKA SATU BANGSA DAN NEGARA SALING BERMUSUHAN KARENA BEDA AGAMA..” Tetapi saya berharap Indonesia, ke depan akan lebih baik lagi dalam hal tenggang rasa dan toleransinya.
Satu lagi pertanyaan saya :
APAKAH PANCASILA MASIH ADA..?
APAKAH UUD’45 MASIH BERLAKU..?
APAKAH BHINNEKA TUNGGAL IKA, MASIH SEBAGAI PEDOMAN KEANEKARAGAMAN KITA..?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar